Alipir Budiman


Mitos Gunung Bondang
Juli 11, 2008, 9:36 am
Filed under: Kampung Halaman

Alkisah seekor induk burung Rajawali/Elang, membuat sarang diatas pohon yg sangat tinggi sekali di Gunung Bondang. Ianya sedang mau beranak, dan tak ingin jika sudah melahirkan kelak, anak2nya pada jatuh dan pergi sebelum masanya dia menjadi besar dan kuat. untuk itulah sang induk Rajawali/Elang perlu satu bentuk “pegangan”.

Maka mulailah ia mencari-cari, terbang berputar kesana kemari menyusuri sungai, dengan pandangan matanya yg fokus layaknya memiliki Infra Red. Tampaklah akhirnya dari ketinggian, sebentuk kecil tetumbuhan layaknya cacing. Nampak jelas tetumbuhan itu ada diatas air sungai, dan anehnya malah seolah hidup berenang melawan arus sungai yg deras.
Segera sang induk menukik tajam kebawah dan menangkapnya dengan paruhnya. Kemudian dibawa terbang dan diletakkan di sarangnya.

Tidak lama kemudian, melahirkanlah ia dengan bahagia, ada beberapa anak rupanya yg telah ia lahirkan. ketika anak2nya lapar dan perlu makanan, pergilah sang induk burung dengan
tenangnya. karena ia sangat meyakini, anak2nya akan terjaga dari pengaruh gaib si Bulu Perindu yg ada pada sarangnya tersebut.
Yg dengan bulu perindu itu, anak2nya pada betah dan tidak nakal untuk meloncat kesana kemari, sangat betah betah banget tinggal di sarangnya.

Sampai saatnya si anak burung dewasa. Mulailah latihan2 mengarungi angkasa. yang karena semangat terbangnya, si anak burung jadi lupa untuk segera pulang.
Namun Sang induk burung sudah begitu yakin. Cukup dengan memegang Bulu Perindu pd sarang tersebut, kemudian ia membaca mantera berupa siulan dan jeritan tajam, maka dipastikan semua anak2nya yg pergi terbang jauh, semuanya terpanggil dan tidak ada yg bisa melawan, semuanya datang kembali..
#



Maniru
Juni 20, 2008, 1:40 pm
Filed under: Sekolah

Menyontek atau cheating memang bukan hal baru dalam dunia pendidikan, yang biasanya dilakukan oleh seorang atau sekelompok siswa/mahasiswa pada saat menghadapi ujian (test), misalnya dengan cara melihat catatan atau melihat pekerjaan orang lain atau pada saat memenuhi tugas pembuatan makalah (skripsi) dengan cara menjiplak karya orang lain dengan tanpa mencantumkan sumbernya (plagiat).

Menurut Wikipedia cheating merupakan tindakan bohong, curang, penipuan guna memperoleh keuntungan teretentu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.

Meski tidak ditunjang dengan bukti empiris, banyak orang menduga bahwa maraknya korupsi di Indonesia sekarang ini memiliki korelasi dengan kebiasaan menyontek yang dilakukan oleh pelakunya pada saat dia mengikuti pendidikan.

Sebenarnya, secara formal setiap sekolah atau institusi pendidikan lainnya pasti telah memiliki aturan baku yang melarang para siswanya untuk melakukan tindakan nyontek. Namun kadang kala dalam prakteknya sangat sulit untuk menegakkan aturan yang satu ini. Pemberian sanksi atas tindakan nyontek yang tidak tegas dan konsisten merupakan salah satu faktor maraknya perilaku nyontek.

Tindakan nyontek (plagiasi) semakin subur dengan hadirnya internet, ketika siswa atau mahasiswa diberi tugas oleh guru atau dosen untuk membuat makalah banyak yang meng-copy- paste berbagai tulisan yang ada dalam internet secara bulat-bulat. Mungkin masih agak lumayan kalau tulisan yang di-copy-paste-nya itu dipahami terlebih dahulu isinya, seringkali tulisan itu langsung diserahkan kepada guru/dosen, dengan sedikit editing menggantikan nama penulis aslinya dengan namanya sendiri.

Yang lebih mengerikan justru tindakan nyontek dilakukan secara terrencana dan konspiratif antara siswa dengan guru, tenaga kependidikan (baca: kepala sekolah, birokrat pendidikan, pengawas sekolah, dll) atau pihak-pihak lainnya yang berkepentingan dengan pendidikan, seperti yang terjadi pada saat Ujian Nasional. Jelas, hal ini merupakan tindakan amoral yang sangat luar biasa, justru dilakukan oleh orang-orang yang berlabelkan “pendidikan”. Mereka secara tidak langsung telah mengajarkan kebohongan kepada siswanya, dan telah mengingkari hakikat dari pendidikan itu sendiri.

Di lain pihak, para orang tua siswa pun dan mungkin pemerintah setempat sepertinya berterima kasih dan memberikan dukungan atas “bantuan yang diberikan sekolah” kepada putera-puterinya pada saat mengisi soal-soal ujian nasional.

Sekolah-sekolah yang permisif terhadap perilaku nyontek dengan berbagai bentuknya, sudah semestinya ditandai sebagai sekolah berbahaya, karena dari sekolah-sekolah semacam inilah kelak akan lahir generasi masa depan pembohong dan penipu yang akan merugikan banyak orang.

Secara psikologis, mereka yang melakukan perilaku nyontek pada umumnya memiliki kelemahan dalam perkembangan moralnya, mereka belum memahami dan menyadari mana yang baik dan buruk dalam berperilaku. Selain itu, perilaku nyontek boleh jadi disebabkan pula oleh kurangnya harga diri dan rasa percaya diri (ego weakness). Padahal kedua aspek psikologi inilah yang justru lebih penting dan harus dikembangkan melalui pendidikan untuk kepentingan keberhasilan masa depan siswanya.

Akhirnya, apa pun alasannya perilaku nyontek khususnya yang terjadi pada saat Ujian Nasional harus dihentikan.

Bagaimana pendapat Anda?



Mangkahuiku, Bakumpaiku
Juni 20, 2008, 1:31 pm
Filed under: Kampung Halaman

24 nyelu malihi lebu Mangkahui, nyata banar kakaren beda-e. Mangkahui are baubah. Huma-huma ji bihin isut banar, utuh duwe kali lipet. Bihin uluh susah-susah, utuh are ji sugih. Huma babagus, jalanan barami, kandaraan saliweran si muka huma.

Tapi buhen, buhen yaku marasa kabenyeman. Mangkahuiku jida kilau bihin.



Kabar Ketuh
Mei 12, 2008, 11:52 am
Filed under: Kampung Halaman

Mulai tahun 1984, yaku malihi lebu Mangkahui. Kabuatkuh tulak kan Muara Teweh handak sakulah kan Tsanawiyah. Tekadku ije, bulat, bahwa yaku harus sakulah. Karena yaku jida kilau uluh beken. Kungangkuh halus, handak bagawi, narai kia kataun. Mun uluh beken, kungaie ganal, handak umba mandulang mangat beh, garen baangkat-angkat, handak maneweng, ada tana ji kawa ialan. Handak manurih, ada kabun gita.



Semangat Anang Ardiansyah
April 11, 2008, 11:42 am
Filed under: Uncategorized


Anang Ardiansyah, nama itu begitu lekat di hatiku semenjak kecil. Aku mengenal nama ini, seperti aku mengenal lagu “Ampar-Ampar Pisang” dan “Paris Barantai” sejak kecil.

ADING BASTARI
Anang Ardiansyah

Lamah lambut jajantung panjang
Aduhai ading bastari
Bibir habang bakas manginang
Tanda ading nang baik budi

Ading sayang manang di alis
Aduhai bulan sahiris
Putih kuning maambun pupur
Kada tatinggal gawi di dapur

Adat asli jangan dibuang
Hilang akan kupakai jua
Paninggalan urang bahari
Kada lupa sampai mati

AMPAR-AMPAR PISANG
Anang Ardiansyah

Ampar-ampar pisang
Psangku balum masak
Masak sabigi dihurung bari-bari 2x
Manggalepak manggalepok
Dipatah kayu bengkok
Bengkok dimakan api apinya cancurupan 2x
Nang mana batis kutung dikitip bidawang 2x

BONTANG
S. Salfas

Rambai padi rambai palembang
Buahnya labat tangkainya panjang
Biar kucari sampai di Bontang
Barang mahirip kada saimbang

Ini lagu, lagunya Bontang 2x
Lagu gasan basasindiran 2x

Layar kena tamberang kencang
Hanyar ini sampai di Bontang
Baiar mahirip biar saimbang
Iman didada kahada goyang

KAKAMBAN HABANG
Anang Ardiansyah

Kambang culan sasangkutan kakamban habang 2x
Taungut rindu manangis mihat kakamban
Kakambang nang habang 2x

Hari lawan bulan
Rupa manis bapagar bintang
Kakamban nang habang tabawa bajalan
Aduhai kasian

Maramis di banyu dalam
Banyu dalam kacap-kacapan
Manangis di tangah malam
Kakambang nang habang nang jadi ingatan

SABAR MAHADANG
M.A. Barmawie

Laus janar sarai sarapun sarailah sarapun
Wadah mananam tangah halaman
Lawas banar sing takun takun ulunlah batakun
Kada talihat piang pang datang

Kanapa jua harinya hujan
Samakin labat manggantar hati
Rasa balisah ulun mahadang
Urang nang lalu sangkaan pian

Lamun hujan sudah baampih
Hati lalu banyanyi
Turun bapayung mahadang abang
Kada talihat pian pang datang

PANDAN ARUM
Hasal

Bajiku datang marimbun daun
Menguning amas baurai
Syarat runduk rundukan
Kursumangat banihku datang
Banihku intan si pandan harum
Limpahlah limpah ka kindai
Banihku si pandan harum
Kursumangat banihku intan

ANAK PIPIT
Taboneo

Anak pipit gugur matan di sarang
Ka tanah di sala rapun sarai
Umai-umai kada pang sampai hati
Malihat anak pipit kan cilaka

Kasihani anak pipit
Ambili anak pipit
Jangan biarkan anak pipit
Dalam sangsara

BANJARMASIN
Gatot Saputra

Kayuh baimbai ka hulu sungai
Manikmati pamandangan alam
Sungai nang panjang bakilau-kilau
Nang kaya amas intan parmata

Banjarmasin nang kaya jambrut hijau
Di sala butir mutiara
Malahirakan pahlawan bangsa
Bajuang mambela nagara

Kambang goyang lain si kambang barenteng
Kambang goyang tari nang lamah gamulai
Kambang barenteng sanggul kakamban habang
Siang malam hati jadi karindangan

KARANTIKA
Anang Ardiansyah

Du dudu du du
Bintang aras si karantika
Bintang sabuku bintang sabuku
Di kandang rakun

Du dudu du du
Kada maras hampian kaka
Diriku ini siang bapanas malam baambun

Pantun nasib marista diri
Adat lagu tingiran
Pantun nasib marista diri
Lagu-lagu di rantawan

Du du du du
Malam ini malam jumahat
Pasang palita pasang palita
Di atas pati
Du du du du
Tapuk bantal kursumangat
Harap batamu-harap batamu
di dalam mimpi



Pendidikan Islam dalam "Ayat-ayat Cinta"
April 1, 2008, 1:40 pm
Filed under: Uncategorized

PENDIDIKAN ISLAM DALAM “AYAT-AYAT CINTA”
Oleh Alipir Budiman

Novel Ayat-ayat Cinta yang ditulis Habiburrahman el-Shirazy, seorang sarjana alumnus Universitas al-Azhar Cairo, memang fenomenal. Saya sendiri setelah selesai membaca novel itu, merasa ada sesuatu yang sesak di dalam dada. Sesuatu yang berbeda dari novel-novel lain. Tak salah kalau novel Ayat-ayat Cinta ini meledak di pasaran, dan lantas difilmkan. Tapi yang harus diingat, film dan novel itu berbeda. Ada kata hati yang tidak bisa divisualkan, sehingga tidak terwakili dalam film. Nah, justru di novel ini, perasaan hati bisa dikomunikasikan dengan jelas. Tak salah pula, kalau saya menilai, bahwa inilah novel terindah saat ini.
Subhanallah. Ayat-ayat Cinta tidak saja digemari di Indonesia, tapi juga di Malaysia dan Singapura. Samad Said, sastrawan Malaysia, sangat memuji novel ini. Ia mengatakan: Jika dulu pernah hadir “Atheis”, “Perburuan”, “Pulang”, “Merahnya Merah” dan “Bumi Manusia”, kini tampaknya gelora itu datang dalam bentuk Ayat-Ayat Cinta pula. Ternyata ia adalah sebuah novel yang sangat memujuk dan menghiburkan. Dengan bahasa yang sederhana mengalir, novel ini menghadapkan kita kepada mahasiswa Indonesia yang tidak saja tekun menangguk ilmu, malah berupaya mengisi kehidupan dengan penuh sabar. Ayat-Ayat Cinta pintar mengheret kita menjejaki — malah menghidu — perhubungan Fahri (Indonesia) dan Maria (Mesir) secara penuh mengajar, menghantar isyarat dan kebijaksanaan baru melalui perhubungan sopan antara insan dua negara.”.
Pembaca lain mengatakan “novel ini sudah lunyai bukan sahaja di kalangan pelajar-pelajar tahfiz atau sekolah pondok malahan mana-mana pembaca di seluruh negara. Dan benar seperti kata mereka. Novel ini boleh diangkat sebagai karya sastera Islam yang berjaya. Sungguh-sungguh terkesan dengan novel ini. Benar-benar saya rasa novel ini sewajarnya dimiliki sesiapa sahaja, sungguh-sungguh penulis menggambarkan segalanya. Pelbagai aspek turut disentuh, agama, cinta, keluarga. Jika anda berat pada agama, ini buku untuk anda. Jika anda suka dengan kisah cinta, ini juga untuk anda. Jika anda pentingkan keluarga, ini juga untuk anda. Jika rasa ingin menjelajah Mesir, ini buku untuk anda. Pendek kata, buku ini sesuai untuk semua golongan.”
Salah satu stasiun televisi Malaysia bahkan sampai mengundang Kang Abik, panggilan akrab penulis novel, datang untuk diwawancarai karena novelnya selalu ada di peringkat puncak sebagai buku laris di Malaysia.
Pencinta novel ini di Singapura lain lagi. Mereka beramai-ramai terbang ke Batam untuk menonton film ini yang sedang diputar di Batam awal Maret 2008 ini.

Wakil Melayu
Lagi-lagi Subhanallah. Novel ini, sadar atau tidak sadar, menjadi perekat kembali hubungan bangsa serumpun, terutama Indonesia – Malaysia. Sebagaimana kita ketahui, hubungan kedua negara ini agak memanas dengan berbagai situasi sejak lepasnya Sipadan Ligitan, dilanjutkan lagi dengan kasus Ambalat, pemukulan wasit Indonesia, pematenan batik Solo, sampai pengklaiman (lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, adat dan budaya di Sumatera) sebagai milik Malaysia. Belum lagi persoalan TKI yang membuat imej mereka tentang Indonesia sebagai orang yang bodoh dan dungu. Mereka menghina orang Indonesia di sana dengan kata-kata “Indon”. Perang tulisan di internet pun tak terelakkan. Indonesia memplesetkan Malaysia dengan kata “Maling Sial”.
Tapi lihat, Ayat-ayat Cinta mampu merajut benang yang kusut ini. Sajian pendidikan Islam dalam perilaku sehari-hari selalu mewarnai novel ini dari awal sampai akhir. Aplikasi Islam dalam kehidupan betul-betul digarap dengan manis dengan tokoh Fahri yang nyaris tak ada celanya.
Oleh pembaca Malaysia, mereka menganggap Fahri – tokoh hayalan Kang Abik , sang pengarang– sebagai orang yang mewakili Melayu yang berhasil menempuh pendidikan di Mesir, serta berhasil mengamalkan ajaran dan sunnah Baginda Nabi SAW, sehingga dengan perilaku luhur itu berhasil menarik perhatian tiga gadis dari tiga bangsa berbeda. Nama baik Melayu sangat tercitrakan di novel ini, yang juga berarti nama baik Malaysia juga. Malaysia dalam beberapa komentarnya tentang novel itu banyak menyebut Fahri sebagai orang Melayu ketimbang Indonesia. Ini membuktikan bahwa Fahri dalam tokoh itu juga milik mereka yang notabene juga bangsa Melayu.
Novel ini akan tambah laris manis lagi jika seandainya dalam tokoh rekaan itu termuat juga tokoh dari Malaysia, misalnya saja jadi teman Fahri kuliah satu kamar, atau yang lainnya. Tentu hal ini punya kebanggaan tersendiri bagi Malaysia.
Bangsa Melayu sangat dekat, bahkan identik dengan Islam. Islam yang berbalut cerita digarap indah oleh Kang Abik. Indah karena dibalik cerita Mesir-Indonesianya, ceritanya adalah tentang kita. Tentang pergaulan sesama lelaki-perempuan, pergaulan sesama muslim-bukan muslim, adab murid dan guru, adab dan tanggungjawab sebagai seorang lelaki, perempuan, anak, suami, isteri, kawan, kakak, kekasih, tunangan, manusia dan paling penting sebagai hamba Allah.
Kang Abik, juga mengingatkan kita akan bahwa setiap muslim itu tanggungjawab sebagai pendakwah. Banyak teori, hukum, perintah dan larangan yang ada dalam Islam diaplikasikan dengan baik dalam jalan cerita ini. Pengarang betul-betul menjadikan Islam sebagai bagian dari kehidupan dalam karakternya. Islam juga mengatur bagaimana memandang cinta. Novel ini banyak mengambil ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut tentang cinta. Ayat itu juga merujuk kepada tanda, kekuatan cinta.

Pendidikan Islam
Tidak heran, kalau novel ini merupakan sastra Islami yang hebat. Tidak kurang dari sepuluh kitab yang dijadikan rujukan dalam menulis novel ini. Kang Abik betul-betul memberikan pendidikan ke-Islaman dengan novel sebagai media dan Fahri sebagai tokohnya.
Pendidikan Islam yang dapat kita jumpai dalam novel ini adalah pertama, karakter dan perilaku Fahri banyak mengamalkan sunnah Rasulullah. Misalnya, apabila Fahri hendak menjernihkan suasana pertengkaran, ia tidak serta-merta mengeluarkan hadits “La Taghdab”. Sebaliknya, Fahri mengajak orang yang sedang marah itu agar bersalawat ke atas Nabi SAW dan redalah amarah mereka.
Kedua, Fahri juga teguh dengan prinsip Islam. Contohnya, Fahri sangat menjaga hubungan dengan yang bukan mahram. Beliau enggan bersalaman dengan wanita Amerika dan dijelaskan pula sebabnya menurut hukum Islam. Beliau juga menegur sahabatnya yang membiarkan beliau ditemani keseorangan oleh Maria, seorang wanita Kristian, semasa beliau terlantar di hospital.
Ketiga, Fahri juga menerima saja wanita yang telah dicalonkan oleh gurunya untuk dijadikan teman hidup. Ia tidak tahu siapa gerangan wanita itu. Ia hanya diterangkan bahwa calonnya adalah seorang muslimah yang salehah dan sanggup ikut sama berjuang dalam dakwah. Fahri diberi foto wajah calonnya, tetapi mengambil keputusan untuk ridha dan tawakkal saja.
Keempat, Fahri selalu menjaga kedisiplinan waktu, meskipun ia orang Melayu (Indonesia). Sebagaimana sudah jadi kebiasaan, orang Melayu tidak tepat dalm waktu.
Kelima, Fahri gigih menuntut ilmu. Ia terpaksa menempuh perjalanan yang jauh untuk menuntut ilmu al-Quran dalam suasana matahari yang terik. Ia turut juga rajin berdakwah dengan menterjemah buku dan menjawab persoalan tentang Islam kepada seorang wartawan Amerika sehingga membawa kepada keIslaman wartawan tersebut. Beliau sangat gigih sehingga jatuh sakit sampai akhirnya terpaksa dimasukkan ke rumah sakit akibat terjemur terlalu lama di bawah mentari.

Banyak Hikmah
Sungguh rugi rasanya, seandainya pembaca tidak mengenal siapa saja di balik novel Ayat-ayat Cinta yang sangat hebat ini, dan terjual lebih dari 300 ribu eksemplar.
Bercerita tentang. Fahri, pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah. Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan.
Maria Girgis, tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al-Qur’an dan Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta yang hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul, anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak. Setelah itu ada Noura, tetangga yang selalu disiksa ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.

Terakhir muncullah Aisha, si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Ayat-Ayat Cinta, sebuah novel pembangun jiwa, memang benar-benar membangunkan jiwa-jiwa yang haus akan nilai-nilai religi, dan haus akan suasana hikmah Illahi. Ketika kita merasuk ke dalam cerita itu, bagi orang yang halus hatinya, bagi orang yang kuat perasaannya, pasti akan terbawa dalam keharuan, kemudian tak terasa hangat air mata mengalir lembut di pipi. Saya yakin, siapapun yang pernah membaca buku ini mengalaminya. Yakinlah, banyak hikmah yang dapat dipetik dalam cerita ini.

Alipir Budiman, S.Pd
e_mail : affrains.budiman@yahoo.co.id
Guru MTs Negeri 2 Gambut Kab. Banjar



Aku Menulis Lagi
Februari 6, 2008, 1:43 pm
Filed under: Uncategorized

Inilah tekadku. Ingin menulis lagi, meski keadaanku sudah berbeda dengan di saat aku produktif sekitar tahun 90-an. Aku telah memasuki dunia kerja yang terlalu banyak menyita hari-hariku. Begitu menjemukan sekaligus melelahkan. Selain sebagai guru, aku juga bekerja di warung makanan.

Di warung inilah menyebabkan matinya kreativitas yang sejak lama kubina. Bibit yang semestinya selalu disiram dan dipelihara, ternyata harus layu sebelum akhirnya terkubur. Ah, menyedihkan memang.

Meski aku menyadarinya, toh pekerjaan di warung tetap rutin kujalani. Dari sinilah, aku bisa merasakan segalanya. Kehidupan di rumah tangga terasa berubah. Meski hanya mendapat laba 40 jutaan sebulan, itu jauh lebih baik dibandingkan gaji sebagai seorang guru PNS yang hanya mendapat 1,8 juta sebulan.

Inilah problem guru-guru di sekolah. Gaji yang ada tidak mencukupi untuk keperluan yang lebih besar. Hanya cukup untuk sebuah kehidupan yang sederhana. Terlalu menyedihkan memang. Di saat hasrat untuk punya kehidupan yang lebih baik begitu menggelora, tapi kita tidak mampu apa-apa. Beli rumah tidak sanggup. Kalaupun sanggup, itu hanya type 36 dengan kategori Rumah Sangat Sederhana dengan masa cicilan 10 hingga 15 tahun. Ingin beli mobil, itu impian yang tidak mungkin. Gaji 1,6 juta perbulan mana mungkin ingin membayar angsuran mobil yang mencapai 5 jutaan. Paling-paling cukup untuk membayar uang muka sebuah sepeda motor dengan angsuran ringan. Mau beli televisi 29 inch, spring bed yang mahal, atau sofa yang berkualitas, harus menabung beberapa bulan.

Tidak mengherankan, kalau guru identik dengan kehidupan sederhana. Lalu, haruskan teorema seperti itu diterima? Kita hanya pasrah dengan keadaan tersebut?

Aku, termasuk orang yang membantah pernyataan tersebut. Dan itu sudah kubuktikan. Pekerjaan di warung bisa memberikan pendapatan yang lebih besar dari gaji kita sebagai guru. Bagiku, orang yang hanya mengharap gaji dari pemerintah, tanpa memikirkan bidang usaha lain yang bisa digarap, adalah guru yang tidak punya kreativitas dan miskin inovasi. Mereka miskin dengan gaji pas-pasan, karena mereka tidak kreatif.

Hanya saja, resiko besar yang dihadapi dengan adanya pertumbuhan usaha, adalah pudarnya jiwa intelektual seseorang. Dunia intelektual yang dulu pernah jadi dunia di hati, kini semakin hilang. Kreativitas dalam bidang bisnis nyaris mematikan kreativitas dalam bidang yang lain.

Menulis, dunia yang dulu kugeluti, terasa semakin jauh. Komputer yang dulu setiap hari menemani, kini seperti menjadi barang pajangan yang hanya dipakai jika perlu. Kendati ide-ide cemerlang begitu banyak bermunculan dalam otak, namun pikiran tidak sanggup lagi menuangkannya ke dalam tulisan.

Terkadang muncul rasa malu, ketika ada yang masih mengingat namaku. Padahal nama itu sudah lama tenggelam. Seperti saat aku memperpanjang KIR mobil, tanpa sengaja, Rustam Effendi, staf Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin, menanyakanku: “Alipir, kenapa tidak menulis lagi?”. “Dulu aku sering membaca tulisan-tulisanmu,” kata beliau lagi.

Sebenarnya, hati ini masih ingin menulis. Jiwa ini masih seperti dulu. Suka menulis. Karenanya, mulai hari ini, kutanamkan niat dan kumulai lagi dengan menulis kalimat, bahwa “aku menulis lagi!”.